Hello…Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, dan selamat malam, bagi minasan yang sekarang tengah mengunjungi blog saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kesediaan minasan bergabung pada halaman blog saya, dan selanjutnya di sini saya mau berbagi ilmu nih seputar dunia pengajaran bahasa jepang…mumpung ada niat dan kesempatan, maka saya akan coba berbagi di blog ini.
Pada kesempatan pertama,
khususnya untuk para pemula yang belajar bahasa jepang, biasanya selalu diawali
dengan belajar menulis huruf hiragana dan katakana bukan..?
Bagi dewan guru, start awal yang bisa dilakukan adalah dengan
memberikan lembaran atau sebuah buku yang berisi full latihan menulis huruf
hiragana dan katakana pada setiap murid. Biasanya di tempat-tempat kursus atau
di tempat perkuliahan sudah disiapkan dan sudah langsung siap digunakan. Namun,
apabila ternyata belum ada, maka dewan guru bisa membuat sendiri, lalu difoto
copy selanjutnya dibagikan ke tiap-tiap murid. Dari tahap ini para murid
dihimbau agar selalu rajin dalam berlatih menulis, agar gerakan tangan tidak
kaku dan supaya cepat lancar.
Selanjutnya, di sini saya akan sedikit berbagi pengalaman
mengenai metode dalam mengajarkan cara menulis huruf hiragana dan katakana
setelah metode di atas. Metode ini sengaja saya buat agar suasana belajar tidak
monoton dan ada dunia kreatif yang juga bermain di sana, sehingga para murid
diharapkan tetap semangat dalam belajar menulis huruf-huruf jepang.
Okey…langsung saja ya,
1.
Metode Mengajarkan Menulis
Huruf-Huruf Hiragana dan Katakana.
·
METODE KE-1
Guru
membuatkan sebuah kata (dalam huruf balok), yang di dalam kata tersebut
terdapat huruf hiragana yang sedang siswa pelajari. Ini dalam rangka agar siswa
cepat menghafal huruf hiragana yang tengah mereka pelajari.
Contoh
praktek: Saat itu huruf hiragana yang sedang
dipelajari adalah huruf A, maka guru membuatkan sebuah kata “misalnya:
TENTARA”, nah si murid tugasnya merubah huruf “A” dengan huruf hiragana yaitu あ, adapun huruf-huruf yang lain tetap ditulis huruf balok. Begitu
seterusnya diulang-ulang dengan beberapa kata yang lain (boleh yang lebih
panjang) dan disesuaikan dengan huruf-huruf yang sedang dipelajari saat itu. Kalau
saat itu huruf hiragana/katakana yang sudah dipelajari sudah banyak, maka
metode di atas tetap bisa dipraktekkan, bahkan lebih maksimal.
·
METODE KE-2 (Hampir mirip
dengan yang di atas)
Guru
meminta tiap-tiap murid untuk menuliskan nama teman yang berada di depan,
belakang, samping kanan, dan kiri mereka. Perintahnya yaitu, tulis dengan huruf
balok kecuali pada huruf yang sedang ia pelajari atau yang sudah pernah
dipelajari sebelumnya, yaitu agar ditulis dengan huruf hiragana/katakana.
Contoh
praktek:
Nama
“ANTON”, huruf hiragana/katakana yang sedang dipelajarisaat itu adalah huruf A
dan TO, maka huruf A dan TO diganti dengan hiragana/katakana, dan huruf yang
lain ditulis tetap dengan huruf balok. Lakukan berulang-ulang, insyaa ALLAH
murid-murid akan cepat hafal.
·
METODE KE-3 (Hampir sama
juga, namun metode ini menurut saya lebih praktis dan efisien)
Guru membuatkan sebuah tulisan boleh
artikel atau cerpen atau yang lain dalam satu halaman penuh yang terdiri dari
beberapa paragraf. Tulisan tersebut boleh berbahasa Indonesia atau boleh yang
berbahasa jepang langsung. Atau kalau
tidak sempat menulis, guru bisa copy paste dari internet. Selanjutnya, tulisan
tersebut di foto copy/ diperbanyak sesuai jumlah murid. Tugas para murid sama seperti
di atas, yaitu menulis kembali tulisan tersebut dengan huruf balok, kecuali
huruf-huruf yang sesuai dengan hiragana/katakana yang sedang mereka pelajari
atau yang sudah dipelajari sebelumnya. Adapun prakteknya, dalam satu pertemuan
itu tidak semua tulisan tersebut ditulis ulang, tapi per paragraph atau
dibatasi per 3 baris, atau silahkan sesuai keinginan guru. Sisanya untuk
pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Metode
ini insyaa ALLAH lebih efektif, karena satu buah artikel tersebut bisa dipakai
untuk beberapa kali pertemuan, sehingga guru tidak bingung-bingung lagi membuat
metode yang lain pada pertemuan berikutnya.
Tapi
saran dari saya, metode ini tetap harus dibatasi, jangan sampai dalam pertemuan
demi pertemuan terus-terusan menggunakan metode ini, karena suasana akan
menjadi monoton dan membosankan juga.
·
METODE KE-4 ( Khusus untuk
huruf katakana)
Guru
memberikan sebuah pertanyaan kepada tiap-tiap muridnya. Pertanyaan nya boleh
pendek, boleh yang panjang (soal cerita). Pertanyaan yang diberikan di luar
wawasan jepang, boleh wawasan Indonesia, wawasan politik, wawasan ilmu alam,
ekonomi dll pokoknya diluar wawasan jepang (ini sengaja dilakukan karena memang
untuk menguji seberapa hafal mereka pada huruf katakana yang sudah mereka
pelajari).
Setelah
pertanyaan diberikan, murid supaya menjawab pertanyaan tersebut dengan cara
menuliskan jawabannya di papan tulis dengan menggunakan huruf katakana, Contoh
praktek:
Pertanyaannya adalah “Apa nama ibu kota
provinsi jawa timur” jawab: SURABAYA (ditulis dengan huruf katakana oleh murid
di papan tulis).
Dan,
pertanyaan yang diberikan jangan terlalu sulit, yang mudah-mudah saja, karena
tujuan kita adalah menguji kemampuan katakana murid bukan kemampuan wawasannya.
(NB: Guru
agar tetap mengajarkan tata cara penulisan katakana yang benar, yaitu sebagai
contoh: dalam katakana tidak ada huruf mati “R”, yang ada penulisannya yaitu “RU”,
contoh kata JAKARTA saat ditulis ke dalam bentuk katakana berbunyi JAKARUTA,
SANTOS menjadi SANTOSU, ANGKOT menjadi ANGKOTO, dll.)
·
METODE KE-5 (Khusus untuk
huruf hiragana)
Guru
membuat daftar sebagai berikut:
1.
Nama-nama kota yang berada
di Negara jepang
2.
Nama-nama makanan dan
minuman jepang
3.
Nama-nama orang jepang
4.
Nama-nama kebudayaan yang
ada di jepang, dll
Prakteknya: Tulis
daftar nama tersebut dengan huruf balok, susun dengan terperinci, jumlahnya
bebas, setelah selesai disusun lalu di foto copy, kemudian bagikan ke setiap
murid. Dari situ murid diminta untuk menuliskannya ke dalam huruf hiragana. Lakukan
dalam beberapa kali pertemuan, insyaa ALLAH murid dapat segera terlatih dalam
menulis huruf hiragana, sekaligus akan cepat hafal.
·
METODE KE-6
Metode
ini saya beri nama PERMEN PUTAR.
Bahan
yang dipersiapkan adalah permen, dan Tape recorder/ HP.
Prakteknya:
Para murid diminta untuk berdiri membentuk lingkaran. Satu murid diantara
mereka disuruh memegang satu buah permen. Nanti permen tersebut dikelilingkan
sambil diputarkan musik. Tugas guru menghentikan suara musik tersebutdengan
tiba-tiba. Nah, saat suara musik itu berhenti, maka permen juga harus berhenti.
Siapa diantara murid tersebut yang memegang terakhir permen tersebut (saat
musik mati), maka dialah yang berhak mendapatkan pertanyaan dari gurunya, dan
pertanyaan tersebut agar dijawab oleh murid itu dengan ditulis menggunakan
huruf hiragana / katakana di papan tulis. Dan apabila dia menjawabnya dengan
benar, maka ia berhak memiliki permen yang ia pegang tersebut, dan dia
dipersilahkan duduk untuk menonton teman-temannya bermain. Tapi kalau jawabannya
salah maka ia harus kembali ke dalam lingkaran dan ikut bermain kembali. Begitu
seterusnya, hingga murid-murid dalam lingkaran tersebut habis.
·
METODE KE-7
Guru menuliskan dua buah huruf hiragana/katakana
di papan tulis. Satu huruf diletakkan di depan, dan huruf satunya di belakang.
Di antara ke dua huruf tersebut diberi garis-garis horizontal pendek ( __ __ __
),
Kemudian
nanti murid diberi pertanyaan dan diminta menjawabnya dengan mengisi
garis-garis yang kosong tersebut dengan huruf-huruf hiragana/katakana sampai
terisi semuanya sehingga menghasilkan sebuah kata yang sempurna.
Peraturannya adalah satu baris kosong untuk satu murid, jadi seumpama ada 7
baris kosong maka yang maju ke depan untuk mengisi adalah 7 murid, itu kalau
setiap murid yang maju mengisi dengan benar. Tapi kalau ada murid yang salah
dalam mengisi, maka langsung digantikan dengan murid yang lain sampai
jawabannya benar, dengan demikian bisa jadi tidak hanya 7 orang yang maju ke
depan bahkan bisa lebih.
·
METODE KE-8
Guru menyediakan fasilitas berupa
potongan-potongan kertas kecil-kecil yang masing-masing di dalamnya dituliskan
huruf balok A, I, U, E,O, KA, KI, KU ,KE, KO, SA, SI…dst (sampai dengan jumlah
huruf hiragana/katakana). Potongan-potongan kertas itu masukkan ke dalam kotak
yang bagian atasnya terbuka. Nah, setiap murid nanti tugasnya mengambil satu
buah potongan kertas, kemudian murid diminta membuat kata-kata dalam bahasa
jepang sebanyak-banyaknya sesuai dengan huruf yang berada dalam potongan kertas
yang mereka ambil, ditulis dengan menggunakan huruf hiragana/katakana. Contoh
praktek:
Huruf
yang di dalam potongan kertas tersebut adalah KA, maka murid supaya membuat
kata-kata bahasa jepang yang ada huruf KA nya misalnya: Kawasaki, katsumoto,
kanji, kabuki, dll, dengan ditulis menggunakan huruf hiragana.
Selanjutnya,
selain metode-metode di atas, saya juga akan membagikan metode-metode yang
lain, dengan praktek yang unik dan menarik, dan tentunya untuk mengetahui
kemampuan para murid yaitu seberapa hafal mereka pada huruf-huruf hiragana dan
katakana yang sudah mereka pelajari. Untuk itu langsung saja bisa di
simak…Douzo’.
2). Metode mengajarkan huruf
hiragana dan katakana.
·
METODE KE-1
Guru menuliskan angka 1, 2,3,4 di papan
tulis dengan diberi jarak. Di bawah setiap angka tersebut guru menuliskan
huruf-huruf balok, contoh praktek: 1 2 3
(A,
I, KA, KU) (U, E, SA, SO) (RA, MA, O)
Sebelumnya guru sudah menulis huruf-huruf
hiragana/katakana yang sesuai dengan huruf-huruf balok yang di papan tulis
tersebut pada kertas ( per kertas satu huruf, dan ditulis dengan ukuran yang
besar). Cara memainkannya adalah sebagai berikut:
Guru berdiri sambil menunjukkan satu kertas
ke murid yang duduk paling depan, caranya kertas diangkat di depan dada, lalu
murid itu diminta menebak kira-kira huruf hiragana yang di kertas itu apa, lalu
dia supaya maju dan berdiri pada posisi nomer yang mana ada huruf balok yang sama bacanya dengan
huruf hiragana yang ditunjukkan di kertas tadi. Begitu seterusnya bergiliran
sampai semua murid kenaan.
Dengan
demikian, guru akan mengetahui kemampuan muridnya dalam menghafal huruf-huruf
hiragana dan katakana yang sudah mereka pelajari.
·
METODE KE-2
Guru
menuliskan huruf-huruf hiragana di papan tulis. Adapun menuliskannya dengan
berbaris sesuai dengan posisi duduk murid-muridnya. Untuk lebih jelasnya lihat
ilustrasi berikut ini:
MURID
kami singkat dengan huruf M.
Posisi
duduk murid:
M M M M M M M
M M M M M M M
Kemudian
guru dalam menuliskan huruf hiragananya / katakananya di papan tulis persis
seperti posisi duduk murid-muridnya di atas.
Bisa
dilihat sebagai berikut:
あ き ら ち は ぬ お
し や も た べ ちゃ わ
Langkah
selanjutnya, guru memberikan instruksi seperti ini “ketika saya mengatakan A,
tolong yang merasa duduk di posisi huruf あ supaya mengacungkan tangan”.
Nah
begitu seterusnya sampai semua murid kenaan. Dan pada metode ini, guru dalam
mengatakan hurufnya harus acak, jangan sampai berurutan, karena kalau berurutan
maka murid-muridnya akan tahu dengan mudah kapan jatuh gilirannya.
bisa
dibuat lebih bervariasi lagi, yaitu antara lain:
-Ketika
saya mengatakan A, tolong yang merasa duduk di posisi あ supaya
berdiri.
-
Ketika saya mengatakan A, tolong yang merasa duduk di posisi あ supaya tepuk
tangan dua kali
-
Ketika saya mengatakan A, tolong yang merasa duduk di posisi あ supaya
bilang YES
-
Ketika saya mengatakan A, tolong yang merasa duduk di posisi あ supaya bilang
HAI’
- Ketika
saya mengatakan A, tolong yang merasa duduk di posisi あ supaya
menangkap bola yang saya lemparkan, dst
·
METODE KE-3
Metode
ke-3 ini melanjutkan metode ke-2, yaitu setelah pada gelombang pertama selesai
yaitu setelah semua murid mendapatkan giliran, maka semua murid diminta berdiri
dan pindah tempat duduk secara acak, tidak boleh memilih tempat duduk.
Peraturannya yaitu:
1.
Pada saat proses pindah
tempat duduk, semua murid dilarang melihat ke papan tulis. Guru juga bisa
berdiri tepat di depan papan tulis agar tulisan hiragananya tidak kelihatan
sehingga murid tidak bisa melihat dengan jelas.
2.
Sekali murid sudah mendapatkan
tempat duduk maka tidak boleh pindah.
Adapun
cara bermainnya sama dengan metode ke-2 di atas, dan guru tidak perlu mengganti
huruf-huruf hiragana/ katakana yang sudah ditulis di papan tulis.
NB:
Metode ini cukup dilakukan maksimal 3 kali saja. Karena kalau dilakukan terus-terusan,
dikhawatirkan para murid bisa menghafal letak hiragananya, sehingga nanti pas
proses pindah tempat duduk mereka bisa memilih tempat duduk dengan mudah sesuai
huruf hiragana yang mereka incar.
·
METODE KE-4
Metode
ke-4 ini sama dengan metode ke-3, dan prakteknya sama dengan metode ke-2, hanya
saja formasi yang diubah bukan posisi tempat duduk para murid, melainkan
huruf-huruf hiragana/katakananya yang diubah. Namun, bagi saya metode ini
sedikit monoton, tapi tidak ada salahnya untuk tetap dicoba, OKE..?
·
METODE KE-5
Guru
membuat potongan-potongan kertas (kecil-kecil saja), di dalamnya dituliskan
kata-kata jepang dengan menggunakan huruf hiragana (boleh nama orang jepang,
boleh nama kota di jepang, boleh nama makanan di jepang), jumlah potongan
kertas sesuaikan jumlah murid, lalu kertas-kertas tsb digulung kecil, kemudian
masukkan ke dalam kotak yang bagian atasnya terbuka.
Selanjutnya,
guru membuat daftar di buku pegangannya, yaitu dengan cara guru menulis nama-nama
jepang yang sudah ditulis di potongan-potongan kertas tadi, ditulis berurutan
dari atas ke bawah, kemudian di sebelahnya masing-masing kata jepang tersebut ,
dituliskan sebuah perintah (bebas). Untuk lebih jelasnya bisa disimak contohnya
di bawah ini:
まつもと: Berdiri!
たべもの: 2 kali tepuk pramuka!
あるきます: Berdiri lalu maju 5 langkah!
きりまる: Pegang tas
kamu lalu angkat tinggi-tinggi ke atas!
あたらしい: Tangkap bola ini!
DLL..
Setelah
sudah siap semuanya, maka langsung ke Prakteknya:
1).
Setiap murid diminta maju untuk mengambil satu buah potongan kertas dengan
menutup mata, setelah selesai mengambil dipersilahkan untuk duduk kembali.
Begitu seterusnya sampai semua murid mengambil potongan kertas dan kembali ke
tempat duduknya masing-masing.
2).
Gulungan kertas yang sudah dipegang belum boleh dibuka sampai guru memberikan
aba-aba untuk membuka.
3).
Setiap kata-kata jepang yang ada di dalam kertas tersebut akan disandingkan
dengan sebuah perintah yang nanti akan dibacakan oleh guru
4). Guru memberi aba-aba untuk membuka gulungan
kertas, lalu semua murid diminta untuk mencermati kata-kata jepang yang ada
pada kertas tersebut.
5).
Guru kemudian memulai permainan, dengan berkata seperti ini:
“Yang
megang kata MATSUMOTO tolong berdiri!
“Yang
megang kata TABEMONO tolong 2 kali tepuk pramuka!
“Yang
megang kata ARUKIMASU tolong berdiri lalu maju 5 langkah!
Dst…
Lakukan
sampai seluruh anak mendapatkan giliran…semoga sukses.
·
METODE KE-6
Metode
kali ini hampir sama seperti metode ke-5, hanya metode ke-6 ini lebih simpel
dan lebih praktis karena tanpa perlu mempersiapkan alat dan bahan.
Prakteknya:
Guru menuliskan daftar di papan tulis,
contohnya seperti ini:
つき: 1 kali tepuk pramuka!
のみもの: Jongkok!
みぎ: berdiri!
あつめる: Pegang pundak teman yang ada di depanmu!
Dst…
Kemudian satu murid diminta maju ke depan.
Guru kemudian mengatakan salah satu
kosa-kata jepang tersebut.
Murid tersebut diminta untuk mempraktekkan
kalimat perintah yang ada di sebelah kosa-kata yang disebutkan gurunya
tersebut, contoh:
Guru mengatakan TSUKI, maka murid langsung
melakukan gerakan yaitu 1 kali tepuk pramuka.
Guru mengatakan MIGI, maka murid langsung
melakukan gerakan yaitu berdiri…
Begitu
seterusnya lakukan dengan menambah lebih banyak item kosa-kata dan item kalimat
perintah yang lebih bervariasi, dan ingat metode ini dilakukan secara individu
bukan berkelompok yakni satu per satu murid maju ke depan untuk memainkannya.
Semoga
sukses…
·
METODE KE-7
Metode
ke-7 ini hampir sama pula, dan juga dengan praktek yang simpel, praktis karena
tidak membutuhkan alat-alat pambantu.
Prakteknya:
Guru
menuliskan angka-angka di papan tulis (bebas) dan disebelahnya angka diberi
kosa-kata jepang dengan formasi seperti berikut ini,
Contoh:
3=
あなた
7= にちようび
10= たけ
12= わらう dst..
Kemudian
guru memberikan tebak-tebakan matematika pada tiap-tiap muridnya, boleh
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, yang mana hasilnya adalah angka
yang ada di papan tulis tsb.
Contoh
praktek:
Guru
mengatakan, 4+3…maka murid itu langsung menjumlah sendiri hitungan tersebut dan
langsung menyebutkan kosakata jepang yang sesuai dengan jawaban dari
penjumlahan tadi, yaitu NICHIYOUBI (karena 4+3=7, nah 7 = NICHIYOUBI)
Guru
mengatakan, 20:2…maka murid itu langsung menghitung sendiri hitungan tersebut
dan langsung menyebutkan kosakata jepang yang sesuai dengan jawaban dari
penghitungannya tadi, yaitu TAKE (karena 20:2=10, nah 10= TAKE)
Guru
bertanya, berapakah jumlah bulan dalam satu tahun? Lalu murid tersebut menjawab
WARAU (karena jumlah bulan dalam satu tahun ada 12, nah 12= WARAU)…dst
NB:
Perlu diingat ini permainan individu, sehingga setiap murid mendapat giliran
menjawab pertanyaan. Kemudian guru dalam memberikan pertanyaan supaya dengan
acak, tidak urut sesuai daftar list nya. Dan murid di dalam menjawab yaitu
langsung menyebutkan kosa-kata jepangnya saja, tidak perlu menyebutkan angka
hasil penghitungannya.
Semoga
sukses…
· METODE KE-8
Guru
menuliskan daftar kosa-kata jepang di papan tulis. Jumlah kosa-kata lebih
banyak dari jumlah murid. Contoh praktek menulis daftar kosa-katanya sebagai
berikut:
おしえます、とても、こんばんわ、
あそびます、ならいます、たのしい
すみません、なまえ、かきます,…dst
Murid
diminta maju ke depan, kemudian diminta untuk menghapus kosa-kata yang
disebutkan gurunya. Contoh: guru mengatakan TOTEMO, maka tugas murid yaitu
menghapus kata TOTEMO..dst, lakukan sampai semua kosa-kata habis dan sampai
semua murid mendapat giliran.
Semoga
sukses...
- METODE KE-9
Guru membagi muridnya dalam satu kelas menjadi dua kelompok. Jumlah murid dari tiap kelompok bebas (yang penting seimbang). Langkah permainannya:
Guru membisikkan kosakata bahasa indonesia ke murid di kelompok 1, lalu murid tersebut bertugas menyampaikannya ke kelompok 2 dengan menggunakan bahasa jepang. Kelompok dua bertugas menebak arti dari kosakata bahasa jepang yang diberikan oleh kelompok 1 tadi. Contoh:
Guru membisikkan kata SEKOLAH ke salah satu murid yang di kelompok 1, kemudian murid tersebut menyampaikannya ke kelompok 2 dengan menggunakan bahasa jepang yaitu GAKKOU (nah, syaratnya murid tsb harus tau bahasa jepang nya sekolah). Kemudian kelompok 2 bertugas menebak arti dari GAKKOU tsb.
Penilaian:
Apabila murid dari kelompok 1 tadi tidak tau bahasa jepang dai kosakata bahas Indonesia yang diberikan gurunya tadi, maka kelompok 1 poinnya 0. Apabila bisa menyamapaikan dengan bahasa jepang yang tepat, maka poinnya 10. Dan bagi kelompok lawan apabila bisa menebak dengan benar maka poinnya 10, jika salah poinnya 0.
Begitu seterusnya, lakukan permainan ini sampai semua murid yang ada di dalam masing-masing kelompok tersebut (baik kelompok 1 maupun kelompo 2) mendapat giliran bermain.
Ganbatte...
- METODE KE-10
Metode kali ini diterapkan tidak dengan berkelompok, tapi cukup dengan individu. Permainannya adalah sebagai berikut:
Guru menyuruh muridnya untuk menulis di papan tulis dua buah kosakata berbahasa jepang. Lalu guru menyebutkan salah satu arti dari kosakata bahasa Jepang yang sudah ditulis tadi. Tugas murid adalah menghapus kosakata bahasa jepang yang bukan merupakan arti yang diucapkan oleh gurunya tadi. Contoh praktik:
Murid diminta untuk menulis: IKIMASU , KAERIMASU
Setelah itu guru menyebut kata PULANG.
Tugas murid adalah menghapus kosakata yang bukan arti dari PULANG, yaitu IKIMASU.
Lakukan berulang-ulang dengan modifikasi yang berbeda, contohnya: murid diminta melingkari kosakata yang tepat sesuai dengan arti yang guru ucapkan...
Semoga sukses ya...
Nah…minasan saya rasa sekian dulu share metode pengajaran
bahasa jepangnya. Di lain kesempatan kalau ada ide-ide kreatif lagi seputar
dunia metode pengajaran bahasa jepang, insyaa ALLAH akan saya share lagi di
blog saya tercinta ini. Dan metode-metode di atas juga bisa minasan praktekkan
untuk Mata pelajaran KANJI, insyaa ALLAH metode-metode di atas dapat membantu
melancarkan proses belajar kanji para murid, semoga sukses yaa…
Arigatou gozaimasu….
